Studi Tentang Hadis-Hadis Mengenai Waktu Shalat Fardhu Dan Permasalahannya: Sebuah Aplikasi Metodi Kritik Sanad Dan Pemahamannya
Abstrak
Kajian ini membahas tentang hadis-hadis mengenai waktu shalat fardhu dan berbagai permasalahannya, yang mencakup aplikasi metode kritik sanad dan pemahamannya. Hasil kajian ini adalah: Pertama, Hadis yang menjelaskan awal waktu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh adalah hadis yang dapat dipercaya secara wurud. Kedua: Hadis yang menjelaskan awal waktu Subuh lebih sedikit dibandingkan hadis yang menjelaskan waktu salat lainnya. Kualitas hadis yang menjelaskan tentang waktu subuh pada umumnya harus dipertanyakan lebih lanjut, kecuali beberapa hadis. Ketiga: Hadis tentang waktu salat subuh menceritakan ikutnya Jibril melaksanakan salat Bersama Rasul dengan tujuan untuk menjelaskan waktu-waktu shalat. Akan tetapi pada umumnya rawi dalam sanad hadis-hadis tersebut tidak mencapai derajat siqat, sebagiannya maqbul atau saduq. Keempat: Hadis yang menyatakan bahwa nabi dan para sahabat menunda salat hingga akhir waktu. Hadis tersebut menceritakan bahwa Rasul menunda salat hingga akhir waktu pada saat perang, (Ahzab dan Khandaq). Nabi melaksanakan salat Zuhur dan Asar dan Magrib pada waktu Isya pada perang Khandaq, dan melaksanakan salat Asar pada waktu Magrib pada perang Ahzab. Kelima: Tidak ditemukan adanya hadis yang menyatakan bahwa nabi menunda salat hingga waktunya berakhir kecuali dalam masa perang. Keenam: Dalam menjamak dan mengqashar shalat berlaku syarat dan ketentuan yang berbeda dengan waktu normal.
Kata Kunci: Hadis, Shalat fardhu, Waktu shalat
This study discusses the hadiths regarding fard prayer times and their various problems, which include the application of the isnad critical method and its understanding. The results of this study are: First, the Hadith which explains the start of the Zuhur, Asar, Maghrib, Isha and Fajr prayers is a hadith that can be trusted in wurud. Second: There are fewer hadiths that explain the start of Fajr than the hadiths that explain other prayer times. The quality of the hadiths that explain the time of dawn in general must be further questioned, except for a few hadiths. Third: The hadith about the time of the dawn prayer tells that Jibril joined him in praying with the Apostle with the aim of explaining the times of prayer. However, in general, the narrators in the sanad hadiths do not reach the level of siqat, some of them are maqbul or saduq. Fourth: Hadith which states that the prophet and his companions postponed the prayer until the end of time. The hadith narrates that the Prophet postponed the prayer until the end of time during war, (Ahzab and Khandaq). The Prophet performed the Zuhur and Asr and Maghrib prayers at Isha during the Khandaq war, and carried out the Asar prayers at Maghrib during the Ahzab war. Fifth: There is no hadith which states that the prophet postponed the prayer until the time was over except during times of war. Sixth: When pluralizing and making qashar prayers, terms and conditions apply that are different from normal times.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



